Senin, 05 Oktober 2015

PADI TAHUNAN_#GREAT2ndCOMPETITIONFEUNJ

Padi Tahunan
Panas kurasa hari ini,  bagaikan sebuah belalang yang terperangkap di rumah kaca. bagaimana tidak aku terjebak di antara mobil-mobil yang diandalkan untuk festival nanti. Yak Macet, itulah kata yang identik dengan ibukota Jakarta. Dimana kota yang teramat sangat sibuk pada pagi hingga sore hari itu membuat kendaraan lalu lalang di atas jalan perkotaan. Kotaku canggih dan mewah di bandingkan kota-kota yang lainnya. Tapi apalah, kotaku akan mati ketika para penguasa tidak memperhatikan budaya asli kami.
Masih 3 jam lagi untuk keluar dari mobil ini, jarak rumahku dengan rumah nenek menghabiskan waktu berhari-hari. Ini sangat membuat tulangku kaku di dalam mobil. Bagaimana tidak ? Jakarta menuju jember itu perjalanan yang cukup jauh .Tapi semua itu terbayar dengan indahnya pemandangan alam di Negaraku, langit putih membuatku tentram memandang angkasa. Ingin aku menyentuh langit yang di penuhi dengan gabus putih yang melayang-layang di langit. Aku memang sangat suka dengan kedamaian dan ketentraman.
Sudah terlihat jembatan gantung dekat rumah nenek. Betapa leganya melihat nenek yang sedari tadi menunggu kami di depan pintu sambil menggendong kucing peliharaannya. Nenek adalah orang tua dari Ayahku. Namun ayahku kini telah damai di alam lain. Aku tak akan lagi mengingat kematian ayahku, sungguh perih rasanya.
“Nenek !!!” teriak Gilang adikku paling bungsu dari dalam mobil. Aku memarkir mobil di depan rumah kosong, dan adik-adikku langsung menuju nenek lalu memeluknya. Aku yang sedari tadi kangen akan pelukan nenek juga tak mau kalah memeluk nenek yang sudah 3 tahun tak bertemu. Air mataku mengalir, bukan karena pelukan ini. Tapi aku menangis karena festival kali ini tidak ada orang tua di samping kami. Aku dan adik-adikku sekarang yatim piatu yang hanya memiliki seorang nenek rapuh dan jaraknya pun cukup jauh. Festival 3 tahun yang lalu saat usiaku masih berumur 15 tahun. Ayah dan ibu mengajakku kesebuah hutan dimana hutan itu dipenuhi dengan kunang-kunang yang berterbangan bebas bagaikan bulu ayam yang lepas dari kulitnya. Kini, giliran aku mengajak adik-adikku untuk melihat apa yang aku lihat 3 tahun yang lalu.
Sama saja, pemandangan kunang-kunang tetap saja seperti dulu. Indah, kemilau, dan tentram seperti aku sudah berada di surga yang teramat indah tak mau beranjak dari sini. Air mataku jatuh tak berbunyi, betapa rindunya aku pada Ayah dan Ibu. Aku tiba-tiba tak dapat merasakan apa-apa , aku hanya terdiam, menangis sambil menyebut nama Ayah dan Ibuku. Takku sangka , adik-adikku memeluk erat tubuhku dan berkata “tolong jangan menangis , itu akan membangunkan Ibu”  benarkah ? jika memang begitu , aku akan terus manangis hingga aku bisa bertemu dengan ibu, jawabku dalam hati.
             Adikku  menarikku menuju rumah nenek, ia tahu kalau aku lama berada disana aku akan terus menangis tanpa henti mengingat orang tuaku. Sakit ! ada apa dengan adikku ia menarik tanganku dengan keras seperti menarik ranting dari dahannya. Mata mereka yang melotot menunjukkan kekecewaannya padaku, aku tak menyangka mereka akan seperti ini. Darah di tanganku mulai menebal akibat kerasnya ia mencengkram tanganku.
            Bukan saja aku merasa takut karena ulahnya tapi aku juga merasa kecewa dengan diriku. Aku menangis di saat adik-adikku akan bergembira besok.
“Deva, kapan kamu datang ?” seseorang menyapaku di bawah pohon.
            Ternyata ia sahabatku yang sekarang sudah sukses di negri orang. Aku menghampirinya sambil menyuruh adik adikku untuk pulang duluan. Dengan penerangan lampu rumah di jejeran jalan desa, aku merasa seperti budaya di sini masih terjaga buktinya festival yang akan diadakan 2 hari lagi dipersiapkan sematang matangnya. Sahabatku yang sudah menungguku di bawah pohon memakai pakaian adat jember. Tradisi di sini setiap laki laki remaja ataupun dewasa memakai sarung.
“dev, gimana kabar kamu dev ?”
“aku baik kok, kamu gimana ? udah nggak kuliah lagi nih?”
“hahahaha… enggak dev, soalnya aku udah kerja lho”
“waaaaah… sukses sekarang yaaa”
“Alhamdulillah, eeh kau kesini untuk lihat festival jember ?”
“iyya nih, adik adikku ingin sekali melihat festival jember makanya aku pulang kampung”
            Razak menyodorkan ole ole sarung dari Malaysia yang ia peroleh selama bekerja menjadi TKI di sana. Mau tidak mau aku mengambil dari tangannya. Sudahlah, suasana sudah mulai hening, malam yang bergantung di langit membuat sebagian orang sudah terlelap menikmati mimpi indah mereka masing masing.
            Raja angkasa telah memperlihatkan cahaya tanpa batas ke seluruh dunia. Bumi yang bulat hanya sebagian terkena cahayanya bagaikan ying dan yam asal cina.
            2 hari sudah aku di sini saatnya menyaksikan festival jember yang termasuk salah satu festival terbesar di dunia. Semangatnya hari ini bagaikan hari kemerdekaan bagiku. Menyaksikan budaya kampungku yang dipamerkan ke Negara lain.
            Adik adikku sudah siap untuk menyaksikan festival. Lagi lagi aku teringat pada Ayah dan Ibu. Mereka seolah datang dan mengucapkan selamat bersenang senang kepada kami. Tiga tahun yang lalu ibuku mengucapkan ayo bersenang senang. Sesaat aku hilang pikiran, hening tak bersuara lagi. Rambutku terasa diusap oleh ibuku air mata yang sudah tak dapat di bending lagi mengalir dengan cepat. Tak mampu lagi menyimpan kesedihan di depan adik adikku.
“tolong jangan menangis lagi”  pinta gilang.
            Air mata yang sudah mengalir kini aku usap menebarkan senyuman kepada kedua adikku. Baiklah sekarang aku harus bahagia orang tuaku akan tersenyum padaku jika aku tidak menangis lagi.
             Hamparan padi di sekeliling rumahku seperti melambaikan arogannya dengan bantuan angin. Mereka seolah berdansa bersama angin. Nenek dan adik adikku mulai memasuki mobil yang aku peroleh dari perantaun. Sungguh ramai masyarakat yang hendak menonton festival jember. Bukan hanya masyarakat lokal yang menyaksikan keindahan busana yang di pamerkan tetapi masyarakat mancanegara juga menyaksikan festival jember. Bagaimana tidak ? festival ini termasuk salah satu festival terbesar di dunia. Makanya aku tidak sungkan mengajak adik adikku pulang kampung untuk menyaksikan festival ini.
            Ternyata benar, mobilku terjebak macet ketika berada sekitar 300 meter dari lokasi festival. Apadaya, aku harus mencari tempat untuk memarkirkan mobil sehingga aku berjalan kaki menuju lokasi.
“kak ? ramai sekali kak”  ujar Esa.
“iya, inilah istimewanya festival jember”
            Senyuman yang aku tebarkan kali ini spontan. Benar benar  aku terpana oleh indahnya busana yang di rancang langsung oleh masyarkat jember. Ribuan bahkan milyaran emosi manusia memenuhi jalan bagaikan kumpulan butiran kerang yang menghiasi lautan. Banggalah menjadi anak Indonesia, aku tinggal di Jakarta dengan berbagai budaya yang unik dan penuh manfaat. Itu baru Jakarta belum lagi Jember dan masih banyak lagi budaya-budaya di Indonesia yang sangat terkenal di Dunia. Kalau bukan pemuda Indonesia siapa lagi. Itulah kata-kata dari temanku yang berada di Aceh sana.
            Ayah dan Ibuku pasti tersenyum kepadaku di alam sana. Aku sudah tidak menangis lagi karena mengingat orang tuaku. Kenangan 3 tahun yang lalu akan ku alirkan kepada adik adikku. Tersenyumlah Ayah dan Ibu aku selalu menyayangi kalian.

              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar