Padi Tahunan
Panas kurasa hari ini, bagaikan sebuah belalang yang terperangkap di
rumah kaca. bagaimana tidak aku terjebak di antara mobil-mobil yang diandalkan
untuk festival nanti. Yak Macet, itulah kata yang identik dengan ibukota
Jakarta. Dimana kota yang teramat sangat sibuk pada pagi hingga sore hari itu
membuat kendaraan lalu lalang di atas jalan perkotaan. Kotaku canggih dan mewah
di bandingkan kota-kota yang lainnya. Tapi apalah, kotaku akan mati ketika para
penguasa tidak memperhatikan budaya asli kami.
Masih 3 jam lagi untuk keluar dari mobil
ini, jarak rumahku dengan rumah nenek menghabiskan waktu berhari-hari. Ini
sangat membuat tulangku kaku di dalam mobil. Bagaimana tidak ? Jakarta menuju
jember itu perjalanan yang cukup jauh .Tapi semua itu terbayar dengan indahnya
pemandangan alam di Negaraku, langit putih membuatku tentram memandang angkasa.
Ingin aku menyentuh langit yang di penuhi dengan gabus putih yang melayang-layang
di langit. Aku memang sangat suka dengan kedamaian dan ketentraman.
Sudah terlihat jembatan gantung dekat
rumah nenek. Betapa leganya melihat nenek yang sedari tadi menunggu kami di
depan pintu sambil menggendong kucing peliharaannya. Nenek adalah orang tua
dari Ayahku. Namun ayahku kini telah damai di alam lain. Aku tak akan lagi
mengingat kematian ayahku, sungguh perih rasanya.
“Nenek !!!” teriak
Gilang adikku paling bungsu dari dalam mobil. Aku memarkir mobil di depan rumah
kosong, dan adik-adikku langsung menuju nenek lalu memeluknya. Aku yang sedari
tadi kangen akan pelukan nenek juga tak mau kalah memeluk nenek yang sudah 3
tahun tak bertemu. Air mataku mengalir, bukan karena pelukan ini. Tapi aku
menangis karena festival kali ini tidak ada orang tua di samping kami. Aku dan
adik-adikku sekarang yatim piatu yang hanya memiliki seorang nenek rapuh dan
jaraknya pun cukup jauh. Festival 3 tahun yang lalu saat usiaku masih berumur
15 tahun. Ayah dan ibu mengajakku kesebuah hutan dimana hutan itu dipenuhi
dengan kunang-kunang yang berterbangan bebas bagaikan bulu ayam yang lepas dari
kulitnya. Kini, giliran aku mengajak adik-adikku untuk melihat apa yang aku
lihat 3 tahun yang lalu.
Sama saja, pemandangan kunang-kunang
tetap saja seperti dulu. Indah, kemilau, dan tentram seperti aku sudah berada
di surga yang teramat indah tak mau beranjak dari sini. Air mataku jatuh tak
berbunyi, betapa rindunya aku pada Ayah dan Ibu. Aku tiba-tiba tak dapat
merasakan apa-apa , aku hanya terdiam, menangis sambil menyebut nama Ayah dan
Ibuku. Takku sangka , adik-adikku memeluk erat tubuhku dan berkata “tolong
jangan menangis , itu akan membangunkan Ibu” benarkah ? jika memang begitu , aku akan terus
manangis hingga aku bisa bertemu dengan ibu, jawabku dalam hati.
Adikku menarikku menuju rumah nenek, ia tahu kalau
aku lama berada disana aku akan terus menangis tanpa henti mengingat orang
tuaku. Sakit ! ada apa dengan adikku ia menarik tanganku dengan keras seperti
menarik ranting dari dahannya. Mata mereka yang melotot menunjukkan
kekecewaannya padaku, aku tak menyangka mereka akan seperti ini. Darah di
tanganku mulai menebal akibat kerasnya ia mencengkram tanganku.
Bukan saja aku merasa takut karena ulahnya tapi aku juga
merasa kecewa dengan diriku. Aku menangis di saat adik-adikku akan bergembira
besok.
“Deva, kapan kamu datang ?” seseorang
menyapaku di bawah pohon.
Ternyata ia sahabatku yang sekarang sudah sukses di negri
orang. Aku menghampirinya sambil menyuruh adik adikku untuk pulang duluan. Dengan
penerangan lampu rumah di jejeran jalan desa, aku merasa seperti budaya di sini
masih terjaga buktinya festival yang akan diadakan 2 hari lagi dipersiapkan
sematang matangnya. Sahabatku yang sudah menungguku di bawah pohon memakai
pakaian adat jember. Tradisi di sini setiap laki laki remaja ataupun dewasa
memakai sarung.
“dev, gimana kabar kamu dev
?”
“aku baik kok, kamu gimana ?
udah nggak kuliah lagi nih?”
“hahahaha… enggak dev,
soalnya aku udah kerja lho”
“waaaaah… sukses sekarang
yaaa”
“Alhamdulillah, eeh kau
kesini untuk lihat festival jember ?”
“iyya nih, adik adikku ingin
sekali melihat festival jember makanya aku pulang kampung”
Razak menyodorkan ole ole sarung dari Malaysia yang ia
peroleh selama bekerja menjadi TKI di sana. Mau tidak mau aku mengambil dari
tangannya. Sudahlah, suasana sudah mulai hening, malam yang bergantung di langit
membuat sebagian orang sudah terlelap menikmati mimpi indah mereka masing
masing.
Raja angkasa telah memperlihatkan cahaya tanpa batas ke
seluruh dunia. Bumi yang bulat hanya sebagian terkena cahayanya bagaikan ying
dan yam asal cina.
2 hari sudah aku di sini saatnya menyaksikan festival
jember yang termasuk salah satu festival terbesar di dunia. Semangatnya hari
ini bagaikan hari kemerdekaan bagiku. Menyaksikan budaya kampungku yang
dipamerkan ke Negara lain.
Adik adikku sudah siap untuk menyaksikan festival. Lagi lagi
aku teringat pada Ayah dan Ibu. Mereka seolah datang dan mengucapkan selamat
bersenang senang kepada kami. Tiga tahun yang lalu ibuku mengucapkan ayo
bersenang senang. Sesaat aku hilang pikiran, hening tak bersuara lagi. Rambutku
terasa diusap oleh ibuku air mata yang sudah tak dapat di bending lagi mengalir
dengan cepat. Tak mampu lagi menyimpan kesedihan di depan adik adikku.
“tolong jangan menangis lagi”
pinta gilang.
Air mata yang sudah mengalir kini aku usap menebarkan senyuman
kepada kedua adikku. Baiklah sekarang aku harus bahagia orang tuaku akan tersenyum
padaku jika aku tidak menangis lagi.
Hamparan padi di
sekeliling rumahku seperti melambaikan arogannya dengan bantuan angin. Mereka seolah
berdansa bersama angin. Nenek dan adik adikku mulai memasuki mobil yang aku
peroleh dari perantaun. Sungguh ramai masyarakat yang hendak menonton festival
jember. Bukan hanya masyarakat lokal yang menyaksikan keindahan busana yang di
pamerkan tetapi masyarakat mancanegara juga menyaksikan festival jember. Bagaimana
tidak ? festival ini termasuk salah satu festival terbesar di dunia. Makanya aku
tidak sungkan mengajak adik adikku pulang kampung untuk menyaksikan festival
ini.
Ternyata benar, mobilku terjebak macet ketika berada
sekitar 300 meter dari lokasi festival. Apadaya, aku harus mencari tempat untuk
memarkirkan mobil sehingga aku berjalan kaki menuju lokasi.
“kak ? ramai sekali kak” ujar Esa.
“iya, inilah istimewanya
festival jember”
Senyuman yang aku tebarkan kali ini spontan. Benar benar aku terpana oleh indahnya busana yang di
rancang langsung oleh masyarkat jember. Ribuan bahkan milyaran emosi manusia memenuhi
jalan bagaikan kumpulan butiran kerang yang menghiasi lautan. Banggalah menjadi
anak Indonesia, aku tinggal di Jakarta dengan berbagai budaya yang unik dan
penuh manfaat. Itu baru Jakarta belum lagi Jember dan masih banyak lagi
budaya-budaya di Indonesia yang sangat terkenal di Dunia. Kalau bukan pemuda
Indonesia siapa lagi. Itulah kata-kata dari temanku yang berada di Aceh sana.
Ayah dan Ibuku pasti tersenyum kepadaku di alam sana. Aku
sudah tidak menangis lagi karena mengingat orang tuaku. Kenangan 3 tahun yang
lalu akan ku alirkan kepada adik adikku. Tersenyumlah Ayah dan Ibu aku selalu
menyayangi kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar