Sabtu, 20 Juni 2015



pangeran bersayap
edisi 1

Kejadian ini bermula ketika Ayah membeli seekor burung Nuri di kampung sebelah, Ayah memang Hoby mengoleksi bermacam Burung karena warna bulunya dan suara yang Merdu. Pada saat Ayah membeli Burung Nuri itu Aku masih di dalam kandungan Ibuku.
jangan sekali-kali kau mandikan Burung Nuri itu”  ucap kakek tua penjual Burung itu setelah Ayah menggenggam Burung itu. Ayah merasa heran dengan perkataan kakek itu, tapi Ayah berusaha menghilangkan kata-kata itu, tapi tidak bisa. Ia pulang dengan tidak tenang.
saat Ayah di Hutan dalam perjalanan pulang, tiba-tiba angin berlari begitu cepat membuat Ayah menutup matanya karna banyak debu, dalam kedipan mata Ayah yang sepintas, Ayah melihat bayangan putih yang mendekat pada sangkar Burung Nuri itu. Ayah tidak begitu jelas melihat sosok misterius itu. Saat Angin sudah mulai reda. Ayah membuka matanya tapi Ayah tidak melihat Bayangan Putih itu lagi.
Ayah merasa begitu takut sehingga Ayah mempercepat jalannya. Setelah Ayah keluar dari Hutan. Burung Nuri itu berkicau dengan merdunya. Ayah sangat menikmati suara itu. Ia belum pernah mendengar suara Burung semerdu ini.
Di kejauhan tampak segerombolan orang yang melihat Ayah sedang berjalan dengan membawa Burung Nuri. “indahnya Burung Nuri yang kau bawa Pak,” sahut salah satu di antara mereka. “ooouuh.. terima kasih, tadi saya beli di kampung sebelah”  Ayah begitu senang dengan pujian masyarakat.

Ibu dan aku yang masih dalam kandungannya yang sudah Mulai besar menunggu kedatangan Ayah. Tak sabar melihat Burung yang di beli Ayah hari ini. Di sudut rumah kami terjejer deretan sangkar yang berisikan Burung yang indah bulunya dan suaranya.
Pada saat Ayah memasuki halaman Rumah , anehnya semua burung yang tergantung dalam sangkarnya berkicau dengan merdunya. Seperti menyambut kedatangan Ayah, Ayah tak pernah merasakan hal yang seperti ini. Ia merasa heran .
Begitu pula Ibu, Ia melihat kesekelilingnya tingkah laku burung-burung yang ada dalam sangkar , Tidak pernah Ibu melihat Indahnya bulu-bulu mereka di saat mereka mengepakkan sayapnya.  
Dengan gembiranya Ayah memperlihatkan Burung Nuri yang Ia beli tadi Pagi kepada Ibu. Ibu tampak bahagia dan kagum akan Burung Nuri itu. “dimana Ayah membeli burung itu ? oouuhh indahnya” ucap Ibu. “ayah membelinya di kampung sebelah bu,” jawab Ayah.
Ibu langsung mengajak Ayah untuk makan karna hari sudah sore.
Hari ini tanggal 30 november 1999. Di pagi hari
Ayah sedang sibuk memandikan burung burung kesayangannya . mereka tampak senang di mandikan. Tapi ada satu burung yang merasa gelisah yang hendak di mandikan , yaitu burung Nuri. Ayah heran melihat kelakuan burung itu. pada saat Ayah memandikan burung-burung itu Ia tidak ingat pada nasehat kakek penjual burung itu.
Ayah memandikan burung Nuri itu. Dari beberapa burung yang telah ayah mandikan burung Nuri inilah yang paling sulit dimandikan. Ia terbang kesana sini menghindari air. Tapi, lambat laun burung itupun terkena air.
Terik matarhari menyinari Bumi yang begitu cerahnya. Terjejer sangkar burung di pojok Rumah. Membuat burung-burung mengepakkan sayapnya untuk mengeringkan badan. Lain halnya dengan burung Nuri. Ia malahan diam  tak bergerak.
Di malam hari ibu merasa perutnya sakit. Apakah ini pertanda aku akan lahir ? Ayah dan Ibu segera pergi ke Bidan terdekat. Dengan berhati-hati mereka pun pergi di malam hari.
Mengetahui hal itu, Bidan segera menyiapkan tempat untuk Ibuku yang akan melahirkan. Berjam-jam Bidan menunggu saat yang tepat untuk mengeluarkanku dalam tubuh Ibuku. Hingga akhirnya aku terlahir Normal, pada tanggal 1 DESEMBER 1999.
selamat buk, bayi ibu laki-laki terlahir dengan normal, silahkan pikirkan nama untuk dia buk, pak” ucap Bidan yang mengeluarkan aku dari tubuh Ibu.
bu, bagaimana kita beri nama pangeran?” tanya Ayah.
pangeran sukma sadese” jawab Ibu.
sadase itu apa bu?” tanya ayah kembali.
SAtu DEsember Sembilan Sembilan” jawab Ibu.
jadi, nama anak kita pangeran sukma sadese ya bu?”
“iya yah”
Yah, begitulah nama aku pangeran . 2 hari sudah Aku di tempat praktek bidan . Aku di bawa kerumah yang sudah ada perlengkapan Bayi. Tempat tidurku dengan tempat tidur orang tuaku tidak begitu jauh .
Sudah beberapa hari ini Ayah tidak begitu mengurusi burung burung koleksinya. Salah satu burung mati. Yaitu burung Nuri dan tidak sempat untuk menguburkannya. Karna hari sudah larut malam.
Tidur begitu nyenyak menyelimuti Ayah dan Ibuku. Di saat itupun tiba-tiba mati lampu sehingga tak beberapa lama AC dirumahku tak berfungsi membuat kamar menjadi panas. Ayah terbangun di waktu itu. Ia akan mengecek ke bawah dan menghidupkan arus listrik kembali.
Rumah aku dalam sepintas tampak seperti ada hal aneh di sekitar kami. Ayah lambat laun menuju keluar, tapi di saat itu ia melihat sesosok bayangan putih yang tengah berdiri di dekat keranjang tidurku. Ayah ragu dengan penglihatan ayah . ia mengira bahwa sesosok putih itu adalah pantulan cahaya dari lampu rumah di seberang. Jadi ayah tak terlalu menghiraukannya .
Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke bawah . sedangkan ibu masih tertidur lelap . suasana gelap membuat Ayah tersandung benda sana sini. Sesuatu lancip pun juga tersandung oleh ayah . membuat luka di bagian kaki ayah . tapi ayah masih tetap berjalan menuju arus listrik untuk menghidupkan listrik dan lampu.
klik”  begitulah bunyi ketika ayah menghidupkan listrik di rumah . Ia kembali ke kamar dan tidur.
Pagi hari Ibu berteriak begitu keras. Membuat ayah terkejut dan terbangun secara mendadak. Melihat Ibu menangis dan menutup mata. Ayah menghampiri Ibu. Ayah pun terkejut melihat Aku .
Mereka terkejut saat melihatku karena tiba-tiba ada sepasang sayap yang melekat di punggungku. Putih , besar dan harum begitulah sekiranya sayapku .
Beberapa tahun kemudia, hingga aku menginjak usia 20 tahun, aku tumbuh sebagai manusia burung yang gagah dan anak rumahan. Sejak aku lahir aku tidak pernah di bawa keluar, sayapku hanya bisa hilang setiap tanggal 1. Demi menutupi kehidupanku . ayah dan ibu mengangkat seorang anak yang seusia dengan ku sebagai penggantiku di luar sana .
Namanya Zaldy, ia sangat baik dengan aku. Walaupun dia kakak angkatku . tapi ia menganggap aku sebagai adik kandungnya. Ia mengajarkanku berbagai hal . mulai dari membaca dan beribadah.