pangeran bersayap
edisi 1
Kejadian ini bermula ketika Ayah
membeli seekor burung Nuri di kampung sebelah, Ayah memang Hoby mengoleksi
bermacam Burung karena warna bulunya dan suara yang Merdu. Pada saat Ayah
membeli Burung Nuri itu Aku masih di dalam kandungan Ibuku.
“jangan sekali-kali kau
mandikan Burung Nuri itu” ucap kakek
tua penjual Burung itu setelah Ayah menggenggam Burung itu. Ayah merasa heran
dengan perkataan kakek itu, tapi Ayah berusaha menghilangkan kata-kata itu,
tapi tidak bisa. Ia pulang dengan tidak tenang.
saat Ayah di Hutan dalam
perjalanan pulang, tiba-tiba angin berlari begitu cepat membuat Ayah menutup
matanya karna banyak debu, dalam kedipan mata Ayah yang sepintas, Ayah melihat
bayangan putih yang mendekat pada sangkar Burung Nuri itu. Ayah tidak begitu
jelas melihat sosok misterius itu. Saat Angin sudah mulai reda. Ayah membuka
matanya tapi Ayah tidak melihat Bayangan Putih itu lagi.
Ayah merasa begitu takut sehingga
Ayah mempercepat jalannya. Setelah Ayah keluar dari Hutan. Burung Nuri itu berkicau
dengan merdunya. Ayah sangat menikmati suara itu. Ia belum pernah mendengar
suara Burung semerdu ini.
Di kejauhan tampak segerombolan
orang yang melihat Ayah sedang berjalan dengan membawa Burung Nuri. “indahnya
Burung Nuri yang kau bawa Pak,” sahut salah satu di antara mereka. “ooouuh..
terima kasih, tadi saya beli di kampung sebelah” Ayah begitu senang dengan pujian masyarakat.
Ibu dan aku yang masih dalam
kandungannya yang sudah Mulai besar menunggu kedatangan Ayah. Tak sabar melihat
Burung yang di beli Ayah hari ini. Di sudut rumah kami terjejer deretan sangkar
yang berisikan Burung yang indah bulunya dan suaranya.
Pada saat Ayah memasuki halaman
Rumah , anehnya semua burung yang tergantung dalam sangkarnya berkicau dengan
merdunya. Seperti menyambut kedatangan Ayah, Ayah tak pernah merasakan hal yang
seperti ini. Ia merasa heran .
Begitu pula Ibu, Ia melihat
kesekelilingnya tingkah laku burung-burung yang ada dalam sangkar , Tidak
pernah Ibu melihat Indahnya bulu-bulu mereka di saat mereka mengepakkan
sayapnya.
Dengan gembiranya Ayah
memperlihatkan Burung Nuri yang Ia beli tadi Pagi kepada Ibu. Ibu tampak
bahagia dan kagum akan Burung Nuri itu. “dimana Ayah membeli burung itu ?
oouuhh indahnya” ucap Ibu. “ayah membelinya di kampung sebelah bu,” jawab
Ayah.
Ibu langsung mengajak Ayah untuk
makan karna hari sudah sore.
Hari ini tanggal 30 november 1999.
Di pagi hari
Ayah sedang sibuk memandikan
burung burung kesayangannya . mereka tampak senang di mandikan. Tapi ada satu
burung yang merasa gelisah yang hendak di mandikan , yaitu burung Nuri. Ayah
heran melihat kelakuan burung itu. pada saat Ayah memandikan burung-burung itu
Ia tidak ingat pada nasehat kakek penjual burung itu.
Ayah memandikan burung Nuri itu.
Dari beberapa burung yang telah ayah mandikan burung Nuri inilah yang paling
sulit dimandikan. Ia terbang kesana sini menghindari air. Tapi, lambat laun
burung itupun terkena air.
Terik matarhari menyinari Bumi
yang begitu cerahnya. Terjejer sangkar burung di pojok Rumah. Membuat
burung-burung mengepakkan sayapnya untuk mengeringkan badan. Lain halnya dengan
burung Nuri. Ia malahan diam tak
bergerak.
Di malam hari ibu merasa perutnya
sakit. Apakah ini pertanda aku akan lahir ? Ayah dan Ibu segera pergi ke Bidan
terdekat. Dengan berhati-hati mereka pun pergi di malam hari.
Mengetahui hal itu, Bidan segera
menyiapkan tempat untuk Ibuku yang akan melahirkan. Berjam-jam Bidan menunggu
saat yang tepat untuk mengeluarkanku dalam tubuh Ibuku. Hingga akhirnya aku
terlahir Normal, pada tanggal 1 DESEMBER 1999.
“selamat buk, bayi ibu
laki-laki terlahir dengan normal, silahkan pikirkan nama untuk dia buk, pak” ucap
Bidan yang mengeluarkan aku dari tubuh Ibu.
“bu, bagaimana kita beri nama
pangeran?” tanya Ayah.
“pangeran sukma sadese” jawab
Ibu.
“sadase itu apa bu?” tanya
ayah kembali.
“SAtu DEsember Sembilan
Sembilan” jawab Ibu.
“jadi, nama anak kita pangeran
sukma sadese ya bu?”
“iya yah”
Yah, begitulah nama aku pangeran
. 2 hari sudah Aku di tempat praktek bidan . Aku di bawa kerumah yang sudah ada
perlengkapan Bayi. Tempat tidurku dengan tempat tidur orang tuaku tidak begitu
jauh .
Sudah beberapa hari ini Ayah
tidak begitu mengurusi burung burung koleksinya. Salah satu burung mati. Yaitu
burung Nuri dan tidak sempat untuk menguburkannya. Karna hari sudah larut
malam.
Tidur begitu nyenyak menyelimuti
Ayah dan Ibuku. Di saat itupun tiba-tiba mati lampu sehingga tak beberapa lama
AC dirumahku tak berfungsi membuat kamar menjadi panas. Ayah terbangun di waktu
itu. Ia akan mengecek ke bawah dan menghidupkan arus listrik kembali.
Rumah aku dalam sepintas tampak
seperti ada hal aneh di sekitar kami. Ayah lambat laun menuju keluar, tapi di
saat itu ia melihat sesosok bayangan putih yang tengah berdiri di dekat
keranjang tidurku. Ayah ragu dengan penglihatan ayah . ia mengira bahwa sesosok
putih itu adalah pantulan cahaya dari lampu rumah di seberang. Jadi ayah tak
terlalu menghiraukannya .
Ia melanjutkan langkah kakinya
menuju ke bawah . sedangkan ibu masih tertidur lelap . suasana gelap membuat
Ayah tersandung benda sana sini. Sesuatu lancip pun juga tersandung oleh ayah .
membuat luka di bagian kaki ayah . tapi ayah masih tetap berjalan menuju arus
listrik untuk menghidupkan listrik dan lampu.
“klik” begitulah bunyi ketika ayah menghidupkan
listrik di rumah . Ia kembali ke kamar dan tidur.
Pagi hari Ibu berteriak begitu
keras. Membuat ayah terkejut dan terbangun secara mendadak. Melihat Ibu
menangis dan menutup mata. Ayah menghampiri Ibu. Ayah pun terkejut melihat Aku
.
Mereka terkejut saat melihatku
karena tiba-tiba ada sepasang sayap yang melekat di punggungku. Putih , besar
dan harum begitulah sekiranya sayapku .
Beberapa tahun kemudia, hingga
aku menginjak usia 20 tahun, aku tumbuh sebagai manusia burung yang gagah dan
anak rumahan. Sejak aku lahir aku tidak pernah di bawa keluar, sayapku hanya
bisa hilang setiap tanggal 1. Demi menutupi kehidupanku . ayah dan ibu
mengangkat seorang anak yang seusia dengan ku sebagai penggantiku di luar sana
.
Namanya Zaldy, ia sangat baik
dengan aku. Walaupun dia kakak angkatku . tapi ia menganggap aku sebagai adik
kandungnya. Ia mengajarkanku berbagai hal . mulai dari membaca dan beribadah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar