Sabtu, 25 Juni 2016

jones miris



                                    :v JONES MIRIS :v

Hai sahabat jones  ….  

kali ini gua bakalan berbagi pengalaman soal percintaan. Yaaah karna begitu sulitnya mencari pasangan hidup makanya gua bikin ini sebagai tempat curhat. Oh ya, sebelumnya kenalin, nama gua deva fransiska. Bagi para cowok jangan berani lu dekatin gua apalagi lu pada nganggap gua sebagai cewek.  Gua aslinya cowok, yaaah karna nama ini pemberian orang tua dan Allah SWT menghendaki gua memakai nama ini. yaaa gua terima dengan lapang dada . Di bbm sering kali gua dipromot sama teman2, gua berharap ada cewek cantik yang invite gua. Eeeh ternyata banyak cowok alay yg invite gua. Ini kendala nama cewek “DEVA FRANSISKA 

kalau soal percintaan, gua kadang bingung untuk apa pacaran, toh ujung ujungnya nggak nyapaan. Gua pernah pacaran beberapa kali tapi nggak banyak kok cuman 4 mantan :3 . inti keindahan dari sebuah pacaran itu terletak pada saat proses gebetan, pasca jadian, dan pasca berantem. Disana letak gombalan penuh makna terjadi. Iyyaa nggak yang baru putus ? :v ciiiee selamat jadi jones :v  
Dalam agama islam diharamkan untuk berpacaran, maka dari itu gua lebih memilih untuk tetap menjadi jomblo :v  

Tapi meskipun begitu, yang namanya manusia pasti memiliki nasfu kepada lawan jenis. Gua juga memiliki nafsu kali :3 tapi bukan sesame jenis :v hode lu :v .
Pacaran kalau LDR itu susah jon, apalagi kalau LDR nya nggak pernah ketemu :v baaaah bisa bisa kena tipu :v . tapi nggak papa, kita ambil positivnya aja, LDR itu mengajarkan kita untuk jujur dan setia. Kalau nggak jujur dan setia, yaa nipu dan selingkuh :v antara itu aja kok, nggak jauh2 :v 

Tapi kalau ketemu langsung , terkadang seorang jones itu salah tingkah. Disapa sama cewek/cowok cakep langsung pipisan :v . diajak jalan sama gebetan kadang malu2in :v diajak chat sama pasangan terkadang garing :v yaaaa itulah permainan kejonesan jon :v. nggak papa yak, jones itu perlu ketabahan yang tinggi :3 

Nah sekarang, ceritanya : 

Gua punya gebetan, sekelas lagi :3 . apa sih yang kurang dari dia, udah putih, cantik , tinggi, rambut diikat, feminim, baik , kayak member jkt48 :3 aaaah jangan dilanjutin deh, bisa bisa manjat dinding guanya :v  hahahaha
Gua udah dekat banget sama dia, tiap ke kantin selalu berdua, kalo nggak ada guru gua duduk berdua sama dia , bercanda bareng, pulang bareng, bikin Pr bareng. Bahkan kami pun udah saling manggil “pacar” bukan itu ajah, di BBM dia masang fotoku dan aku masang foto dia, duuuuh sosweet bangeeet :v . 

`tapi , semuanya hancur seketika. Saat terjadi peristiwa besar besaran yaitu teman sekelas menertawakan gua, kalau gua itu suka sama dia. Awalnya gua senang dengarnya karna isi hati gua tersampaikan lewat angin dunia. Tapi lama lamaan ini membuat gua ngerasa nggak nyaman banget. Karna kami tak bebas untuk bedua . akhirnya gua menjauh darinya. Dan berusaha move on :3 
 
Saking jonesnya gua, di status BBM gua bikin “07” . lu pada pasti tau kan, makna dari sebuah angka distatus ? yaaak tanggal jadian, disana gua memampang “07” bukan karna gua udah jadian, tapi untuk menutupi kejonesan gua :v sebenarnya 07 itu adalah nomor absen :v hheheh, yaaah setidaknya belaga seperti ada pacar, duuuh mirisnya :v 

Yaaaah setidaknya nih jon gua masih bisa menonton orang berdua meskipun rasanya sakit :v 


gua belajar dari pengalaman :3


j          Jangan terlalu berharap kepada seseorang, karena seseorang itu belum  tentu berharap sama lu 

Itulah sedikit kronologi kejonesan gua, gua bakalan update cerita2 untuk para jones.
Semoga terhibur teman2 ….. :D 

mau lebih akrab dengan gua ? PC ajah 
bbm    : 5AC095BB
LINE    : devafransiska
ig         : devafransiska 

jangan lupa share dan komen :-D

Senin, 05 Oktober 2015

PADI TAHUNAN_#GREAT2ndCOMPETITIONFEUNJ

Padi Tahunan
Panas kurasa hari ini,  bagaikan sebuah belalang yang terperangkap di rumah kaca. bagaimana tidak aku terjebak di antara mobil-mobil yang diandalkan untuk festival nanti. Yak Macet, itulah kata yang identik dengan ibukota Jakarta. Dimana kota yang teramat sangat sibuk pada pagi hingga sore hari itu membuat kendaraan lalu lalang di atas jalan perkotaan. Kotaku canggih dan mewah di bandingkan kota-kota yang lainnya. Tapi apalah, kotaku akan mati ketika para penguasa tidak memperhatikan budaya asli kami.
Masih 3 jam lagi untuk keluar dari mobil ini, jarak rumahku dengan rumah nenek menghabiskan waktu berhari-hari. Ini sangat membuat tulangku kaku di dalam mobil. Bagaimana tidak ? Jakarta menuju jember itu perjalanan yang cukup jauh .Tapi semua itu terbayar dengan indahnya pemandangan alam di Negaraku, langit putih membuatku tentram memandang angkasa. Ingin aku menyentuh langit yang di penuhi dengan gabus putih yang melayang-layang di langit. Aku memang sangat suka dengan kedamaian dan ketentraman.
Sudah terlihat jembatan gantung dekat rumah nenek. Betapa leganya melihat nenek yang sedari tadi menunggu kami di depan pintu sambil menggendong kucing peliharaannya. Nenek adalah orang tua dari Ayahku. Namun ayahku kini telah damai di alam lain. Aku tak akan lagi mengingat kematian ayahku, sungguh perih rasanya.
“Nenek !!!” teriak Gilang adikku paling bungsu dari dalam mobil. Aku memarkir mobil di depan rumah kosong, dan adik-adikku langsung menuju nenek lalu memeluknya. Aku yang sedari tadi kangen akan pelukan nenek juga tak mau kalah memeluk nenek yang sudah 3 tahun tak bertemu. Air mataku mengalir, bukan karena pelukan ini. Tapi aku menangis karena festival kali ini tidak ada orang tua di samping kami. Aku dan adik-adikku sekarang yatim piatu yang hanya memiliki seorang nenek rapuh dan jaraknya pun cukup jauh. Festival 3 tahun yang lalu saat usiaku masih berumur 15 tahun. Ayah dan ibu mengajakku kesebuah hutan dimana hutan itu dipenuhi dengan kunang-kunang yang berterbangan bebas bagaikan bulu ayam yang lepas dari kulitnya. Kini, giliran aku mengajak adik-adikku untuk melihat apa yang aku lihat 3 tahun yang lalu.
Sama saja, pemandangan kunang-kunang tetap saja seperti dulu. Indah, kemilau, dan tentram seperti aku sudah berada di surga yang teramat indah tak mau beranjak dari sini. Air mataku jatuh tak berbunyi, betapa rindunya aku pada Ayah dan Ibu. Aku tiba-tiba tak dapat merasakan apa-apa , aku hanya terdiam, menangis sambil menyebut nama Ayah dan Ibuku. Takku sangka , adik-adikku memeluk erat tubuhku dan berkata “tolong jangan menangis , itu akan membangunkan Ibu”  benarkah ? jika memang begitu , aku akan terus manangis hingga aku bisa bertemu dengan ibu, jawabku dalam hati.
             Adikku  menarikku menuju rumah nenek, ia tahu kalau aku lama berada disana aku akan terus menangis tanpa henti mengingat orang tuaku. Sakit ! ada apa dengan adikku ia menarik tanganku dengan keras seperti menarik ranting dari dahannya. Mata mereka yang melotot menunjukkan kekecewaannya padaku, aku tak menyangka mereka akan seperti ini. Darah di tanganku mulai menebal akibat kerasnya ia mencengkram tanganku.
            Bukan saja aku merasa takut karena ulahnya tapi aku juga merasa kecewa dengan diriku. Aku menangis di saat adik-adikku akan bergembira besok.
“Deva, kapan kamu datang ?” seseorang menyapaku di bawah pohon.
            Ternyata ia sahabatku yang sekarang sudah sukses di negri orang. Aku menghampirinya sambil menyuruh adik adikku untuk pulang duluan. Dengan penerangan lampu rumah di jejeran jalan desa, aku merasa seperti budaya di sini masih terjaga buktinya festival yang akan diadakan 2 hari lagi dipersiapkan sematang matangnya. Sahabatku yang sudah menungguku di bawah pohon memakai pakaian adat jember. Tradisi di sini setiap laki laki remaja ataupun dewasa memakai sarung.
“dev, gimana kabar kamu dev ?”
“aku baik kok, kamu gimana ? udah nggak kuliah lagi nih?”
“hahahaha… enggak dev, soalnya aku udah kerja lho”
“waaaaah… sukses sekarang yaaa”
“Alhamdulillah, eeh kau kesini untuk lihat festival jember ?”
“iyya nih, adik adikku ingin sekali melihat festival jember makanya aku pulang kampung”
            Razak menyodorkan ole ole sarung dari Malaysia yang ia peroleh selama bekerja menjadi TKI di sana. Mau tidak mau aku mengambil dari tangannya. Sudahlah, suasana sudah mulai hening, malam yang bergantung di langit membuat sebagian orang sudah terlelap menikmati mimpi indah mereka masing masing.
            Raja angkasa telah memperlihatkan cahaya tanpa batas ke seluruh dunia. Bumi yang bulat hanya sebagian terkena cahayanya bagaikan ying dan yam asal cina.
            2 hari sudah aku di sini saatnya menyaksikan festival jember yang termasuk salah satu festival terbesar di dunia. Semangatnya hari ini bagaikan hari kemerdekaan bagiku. Menyaksikan budaya kampungku yang dipamerkan ke Negara lain.
            Adik adikku sudah siap untuk menyaksikan festival. Lagi lagi aku teringat pada Ayah dan Ibu. Mereka seolah datang dan mengucapkan selamat bersenang senang kepada kami. Tiga tahun yang lalu ibuku mengucapkan ayo bersenang senang. Sesaat aku hilang pikiran, hening tak bersuara lagi. Rambutku terasa diusap oleh ibuku air mata yang sudah tak dapat di bending lagi mengalir dengan cepat. Tak mampu lagi menyimpan kesedihan di depan adik adikku.
“tolong jangan menangis lagi”  pinta gilang.
            Air mata yang sudah mengalir kini aku usap menebarkan senyuman kepada kedua adikku. Baiklah sekarang aku harus bahagia orang tuaku akan tersenyum padaku jika aku tidak menangis lagi.
             Hamparan padi di sekeliling rumahku seperti melambaikan arogannya dengan bantuan angin. Mereka seolah berdansa bersama angin. Nenek dan adik adikku mulai memasuki mobil yang aku peroleh dari perantaun. Sungguh ramai masyarakat yang hendak menonton festival jember. Bukan hanya masyarakat lokal yang menyaksikan keindahan busana yang di pamerkan tetapi masyarakat mancanegara juga menyaksikan festival jember. Bagaimana tidak ? festival ini termasuk salah satu festival terbesar di dunia. Makanya aku tidak sungkan mengajak adik adikku pulang kampung untuk menyaksikan festival ini.
            Ternyata benar, mobilku terjebak macet ketika berada sekitar 300 meter dari lokasi festival. Apadaya, aku harus mencari tempat untuk memarkirkan mobil sehingga aku berjalan kaki menuju lokasi.
“kak ? ramai sekali kak”  ujar Esa.
“iya, inilah istimewanya festival jember”
            Senyuman yang aku tebarkan kali ini spontan. Benar benar  aku terpana oleh indahnya busana yang di rancang langsung oleh masyarkat jember. Ribuan bahkan milyaran emosi manusia memenuhi jalan bagaikan kumpulan butiran kerang yang menghiasi lautan. Banggalah menjadi anak Indonesia, aku tinggal di Jakarta dengan berbagai budaya yang unik dan penuh manfaat. Itu baru Jakarta belum lagi Jember dan masih banyak lagi budaya-budaya di Indonesia yang sangat terkenal di Dunia. Kalau bukan pemuda Indonesia siapa lagi. Itulah kata-kata dari temanku yang berada di Aceh sana.
            Ayah dan Ibuku pasti tersenyum kepadaku di alam sana. Aku sudah tidak menangis lagi karena mengingat orang tuaku. Kenangan 3 tahun yang lalu akan ku alirkan kepada adik adikku. Tersenyumlah Ayah dan Ibu aku selalu menyayangi kalian.

              

Sabtu, 20 Juni 2015



pangeran bersayap
edisi 1

Kejadian ini bermula ketika Ayah membeli seekor burung Nuri di kampung sebelah, Ayah memang Hoby mengoleksi bermacam Burung karena warna bulunya dan suara yang Merdu. Pada saat Ayah membeli Burung Nuri itu Aku masih di dalam kandungan Ibuku.
jangan sekali-kali kau mandikan Burung Nuri itu”  ucap kakek tua penjual Burung itu setelah Ayah menggenggam Burung itu. Ayah merasa heran dengan perkataan kakek itu, tapi Ayah berusaha menghilangkan kata-kata itu, tapi tidak bisa. Ia pulang dengan tidak tenang.
saat Ayah di Hutan dalam perjalanan pulang, tiba-tiba angin berlari begitu cepat membuat Ayah menutup matanya karna banyak debu, dalam kedipan mata Ayah yang sepintas, Ayah melihat bayangan putih yang mendekat pada sangkar Burung Nuri itu. Ayah tidak begitu jelas melihat sosok misterius itu. Saat Angin sudah mulai reda. Ayah membuka matanya tapi Ayah tidak melihat Bayangan Putih itu lagi.
Ayah merasa begitu takut sehingga Ayah mempercepat jalannya. Setelah Ayah keluar dari Hutan. Burung Nuri itu berkicau dengan merdunya. Ayah sangat menikmati suara itu. Ia belum pernah mendengar suara Burung semerdu ini.
Di kejauhan tampak segerombolan orang yang melihat Ayah sedang berjalan dengan membawa Burung Nuri. “indahnya Burung Nuri yang kau bawa Pak,” sahut salah satu di antara mereka. “ooouuh.. terima kasih, tadi saya beli di kampung sebelah”  Ayah begitu senang dengan pujian masyarakat.

Ibu dan aku yang masih dalam kandungannya yang sudah Mulai besar menunggu kedatangan Ayah. Tak sabar melihat Burung yang di beli Ayah hari ini. Di sudut rumah kami terjejer deretan sangkar yang berisikan Burung yang indah bulunya dan suaranya.
Pada saat Ayah memasuki halaman Rumah , anehnya semua burung yang tergantung dalam sangkarnya berkicau dengan merdunya. Seperti menyambut kedatangan Ayah, Ayah tak pernah merasakan hal yang seperti ini. Ia merasa heran .
Begitu pula Ibu, Ia melihat kesekelilingnya tingkah laku burung-burung yang ada dalam sangkar , Tidak pernah Ibu melihat Indahnya bulu-bulu mereka di saat mereka mengepakkan sayapnya.  
Dengan gembiranya Ayah memperlihatkan Burung Nuri yang Ia beli tadi Pagi kepada Ibu. Ibu tampak bahagia dan kagum akan Burung Nuri itu. “dimana Ayah membeli burung itu ? oouuhh indahnya” ucap Ibu. “ayah membelinya di kampung sebelah bu,” jawab Ayah.
Ibu langsung mengajak Ayah untuk makan karna hari sudah sore.
Hari ini tanggal 30 november 1999. Di pagi hari
Ayah sedang sibuk memandikan burung burung kesayangannya . mereka tampak senang di mandikan. Tapi ada satu burung yang merasa gelisah yang hendak di mandikan , yaitu burung Nuri. Ayah heran melihat kelakuan burung itu. pada saat Ayah memandikan burung-burung itu Ia tidak ingat pada nasehat kakek penjual burung itu.
Ayah memandikan burung Nuri itu. Dari beberapa burung yang telah ayah mandikan burung Nuri inilah yang paling sulit dimandikan. Ia terbang kesana sini menghindari air. Tapi, lambat laun burung itupun terkena air.
Terik matarhari menyinari Bumi yang begitu cerahnya. Terjejer sangkar burung di pojok Rumah. Membuat burung-burung mengepakkan sayapnya untuk mengeringkan badan. Lain halnya dengan burung Nuri. Ia malahan diam  tak bergerak.
Di malam hari ibu merasa perutnya sakit. Apakah ini pertanda aku akan lahir ? Ayah dan Ibu segera pergi ke Bidan terdekat. Dengan berhati-hati mereka pun pergi di malam hari.
Mengetahui hal itu, Bidan segera menyiapkan tempat untuk Ibuku yang akan melahirkan. Berjam-jam Bidan menunggu saat yang tepat untuk mengeluarkanku dalam tubuh Ibuku. Hingga akhirnya aku terlahir Normal, pada tanggal 1 DESEMBER 1999.
selamat buk, bayi ibu laki-laki terlahir dengan normal, silahkan pikirkan nama untuk dia buk, pak” ucap Bidan yang mengeluarkan aku dari tubuh Ibu.
bu, bagaimana kita beri nama pangeran?” tanya Ayah.
pangeran sukma sadese” jawab Ibu.
sadase itu apa bu?” tanya ayah kembali.
SAtu DEsember Sembilan Sembilan” jawab Ibu.
jadi, nama anak kita pangeran sukma sadese ya bu?”
“iya yah”
Yah, begitulah nama aku pangeran . 2 hari sudah Aku di tempat praktek bidan . Aku di bawa kerumah yang sudah ada perlengkapan Bayi. Tempat tidurku dengan tempat tidur orang tuaku tidak begitu jauh .
Sudah beberapa hari ini Ayah tidak begitu mengurusi burung burung koleksinya. Salah satu burung mati. Yaitu burung Nuri dan tidak sempat untuk menguburkannya. Karna hari sudah larut malam.
Tidur begitu nyenyak menyelimuti Ayah dan Ibuku. Di saat itupun tiba-tiba mati lampu sehingga tak beberapa lama AC dirumahku tak berfungsi membuat kamar menjadi panas. Ayah terbangun di waktu itu. Ia akan mengecek ke bawah dan menghidupkan arus listrik kembali.
Rumah aku dalam sepintas tampak seperti ada hal aneh di sekitar kami. Ayah lambat laun menuju keluar, tapi di saat itu ia melihat sesosok bayangan putih yang tengah berdiri di dekat keranjang tidurku. Ayah ragu dengan penglihatan ayah . ia mengira bahwa sesosok putih itu adalah pantulan cahaya dari lampu rumah di seberang. Jadi ayah tak terlalu menghiraukannya .
Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke bawah . sedangkan ibu masih tertidur lelap . suasana gelap membuat Ayah tersandung benda sana sini. Sesuatu lancip pun juga tersandung oleh ayah . membuat luka di bagian kaki ayah . tapi ayah masih tetap berjalan menuju arus listrik untuk menghidupkan listrik dan lampu.
klik”  begitulah bunyi ketika ayah menghidupkan listrik di rumah . Ia kembali ke kamar dan tidur.
Pagi hari Ibu berteriak begitu keras. Membuat ayah terkejut dan terbangun secara mendadak. Melihat Ibu menangis dan menutup mata. Ayah menghampiri Ibu. Ayah pun terkejut melihat Aku .
Mereka terkejut saat melihatku karena tiba-tiba ada sepasang sayap yang melekat di punggungku. Putih , besar dan harum begitulah sekiranya sayapku .
Beberapa tahun kemudia, hingga aku menginjak usia 20 tahun, aku tumbuh sebagai manusia burung yang gagah dan anak rumahan. Sejak aku lahir aku tidak pernah di bawa keluar, sayapku hanya bisa hilang setiap tanggal 1. Demi menutupi kehidupanku . ayah dan ibu mengangkat seorang anak yang seusia dengan ku sebagai penggantiku di luar sana .
Namanya Zaldy, ia sangat baik dengan aku. Walaupun dia kakak angkatku . tapi ia menganggap aku sebagai adik kandungnya. Ia mengajarkanku berbagai hal . mulai dari membaca dan beribadah.


Selasa, 17 Maret 2015

cerpen berputar 180 derajat


edisi : 1
BERPUTAR 1800

Angin siang menyapa gua yang memberikan efek dingin pada tubuh, di bawah pohon gua berpikir kenapa gua dilahirkan dengan penampilan yang seperti ini CULUN BERMATA EMPAT. Gua melihat David yang begitu sempurnanya ganteng, pintar, disukai banyak orang dan guru-guru. Naah sedangkan gua. Nggak usah diceritain udah tau sendiri.
Oh ya, kenalin nama gua Rendy. Gua berpenampilan nggak terlalu menarik hanya pas-passan dan gua sering dibilang kutu buku. Yaaaah . begitulah kehidupan gua . penuh ejekan dan penderitaan .. cieeelaah … hahaha..
Waddduuuuuhh …… tiba-tiba David nongol di samping gua . huft melihat reaksi gua terkejut .. teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Walaupun David sering mengerjain gua tapi dia baik looh. Dan teman-temannya pun baik-baik juga , apalagi yang namanya Ratih, hehehe .. yaaaah .. selain dia cantik dia juga perhatian sama gua. Hehe.
“ngapain lu bengong ? mikirin dosa lu ? hahaha” tanya david.
lagi mikirin BBM, nape ? hahahaha” jawab gua.
iya nih Ren, sejak tadi kamu ngelamun di bawah pohon, nggak kesurupankan?” ciiieeeh …. Ratih perhatian ama gua.
“jin masa’ kesurupan jin, mana bisa .. hahaha” ejek Radit, temannya David.
aaaah .. mulai nih… males banget gua..” jawab gua.
yeeelah … ngambek.. haha .. emang ada apa sih ? kok lu bengong?” tanya David
yaaaah … itu urusan gua .. hehe… dah gua masuk dulu .. bentar lagi gua mau ujian..” kata gua.
huuuuu…… kayak kutu buku aje lu Ren..”  sorong Radit.

Gua juga selokal noh sama David. Dia wakil gua … hehe …. Yaaaah … bisa di bilang gua ketuanya … hehe … meskipun gua ketua , gua sering sekali tuh nggak di hargai kalau ngomong di depan. Yaah mungkin karna penampilan gua yang culun. Tapi nggak apalah, ini sebuah cobaan … :-D
Gua duduk sebangku dengan syukron. Dia tuh orangnya sebelas duabelaslah dengan gua , tapi dia suka anime. Gua mah kaga’ suka anime tuh. Tapi dia pintar .. weeeh .. gantengnya ,,… hmmmm… nggak usah main deeh … mirip Dude herlino .. (ceritanye)  :-p
Nah ini nih yang gua nggak suka. Yaitu belajar kesenian … huft … ambil nilai nyanyi lagi. Gua ajah nggak tau mau ngelaguin apah. Wiiiisss … ini teman gua yang suaranya mantaaap…. Namanya deva dan aini… kalau duet tuh .. Nowela sama Husein pasti kalah deh . hahaha … (khayalan gua).
Nah pass giliran gua nyanyi. Nggak ada yang memperhatikan gua . hiks hiks hiks.. padahal pass mereka nyanyi gua selalu dengarin mereka. Tiba-tiba terdengar suara David dengan lantangnya.
“wey… jangan mentang-mentang suara kalian bagus yaa …… trus nggak mau dengerin Rendy nyanyi… dia tuh ketua kita… kita harus menghormatinya.. tau nggak ?” bentak David.
“setuju … vid .. masa’ kita beda-bedain teman…… hargai dong orang yang nyanyi di depan…” kata deva.
Wiiissss………ternyata masih ada orang baik..
“sudah-sudah…… Rendy kembali ke tempat duduk kamu. Kita ambil nilai minggu besok ajah” kata pak guru berkumis.
Yeessss … nggak jadi ambil nilai sekarang. Tiba-tiba ada yang nepuk pundak gua sambil berkata. “tenang Ren … kami akan membantu kamu ambil nilai nyanyi..oke” ternyata itu Ratih… hehehe … betul kan .. :-D gua mengangguk kesenengan.. hehe…


Weeh .. bunyi lonceng .. kok gua ketiduran dalam kelas yak.. zzz.. sekarang masih pukul 14:00 .. seperti biasa tugas ketua kelas yaitu mengamankan orang yang lagi piket… ntah apalah namanya itu..
Dari kejauhan telah Nampak genk “PANCA REMAJA” yaah itu .. yang anggotanya David, Ratih, Radit, winda, dan Ardy. Ratih ngomong ke gua “Ren.. sekarang kita latihan suara yaa.. “ gua sih ngangguk ajah..
Nah pass dah selesai jagain orang piket , gua langsung ikut genk itu. Ternyata gua di ajak ke pemandian.. ngapain cobak ? aneh nih orang… tapi kenapa Ratih dan Winda pulang yak … :/ .. yaudahlah .. (jangan negative)
Ouuuh … gitu …. Ternyata gua disuruh latihan pernapasan dan teriakan di dalam air.. wew .. cerdas juga nih anak.. tapi gua males banget masuk kedalam air .. dingin.. tapi mengingat Ratih yang nyuruh teman-temannya buat ngajarin gua .. yaaah gua masuk kedalam air … disana David menyuruh gua untuk nyelam dan tahan napas untuk seberapa bisa (gua takuk kalau gua nggak nongol lagi di permukaan air).
“lu kok nongol sekali 5 detik sih ?” kata Radit.
“yaelah.. gua takut keleus.. -_-“ jawab gua.
“takut apa ? takut mati ? takut sama dosa lu haha?” ejek radit.
“kalau gua nggak nongol lagi di permukaan air gimana?” jawab gua.
“aaah elu mah … kayak baru kenal aje.. kalau lu tenggelam kan ada kami yang akan bantuin lu.. lu tu sekarang dah jadi teman kami” kata deva.
gua kaget mendengar itu .. masa’ sih ada orang yang mau berteman dengan gua orang culun.
“Oke-oke” jawab gua simple.
Lha… sekarang gua disuruh nyelam lagi tapi nggak nahan napas.. tapi gua disuruh teriak dalam air .. emang gua tarzan apa teriak-teriak.. yaah mau nggak mau gua harus ngelakuinnya ……
Dengan konsentrasi gua mulai nyelam .. fukos… dan langsung berteriak sekuat tenaga… setelah puas teriak dalam air gua langsung naik ke atas permukaan… keempat anak yang ngajarin gua langsung tercengang dan bertepuk tangan ..
“wiiih … sumpah Ren lu hebat bangeet .. nyelam selama 1 menit sambil teriak .. woow” kata deva.
“ aaah masa’ ?” jawab gua.
“iyaa… wiih .. mantap-mantap… banyakin minum air putih yaa.. and sering-sering nyanyi .. biar suara lu mantap .. yook sekarang berenang” ajak David.
Gua senang ada juga ternyata teman yang baik.. di tepi kolam gua melihat Deva yang takut loncat dari atas dinding ke kolam cukup tinggi sih …  Ardy, david, dan Radit terus menyuruh deva untuk loncat .. kalau nggak loncat sendiri dia akan diloncatin oleh mereka bertiga .. haha .. gokil .. tampak wajah deva yang cemas .. dengan terpaksa ia loncat juga .. haha …… pass tuh anak dah di air kenapa nggak nongol-nongol lagi yak …… tiba-tiba ada yang narik kaki gua dari dalam air … weeh … dasar ternyata si deva … huft ..