Sabtu, 14 Maret 2015

cobaan dari yang maha kuasa



COBAAN DARI YANG MAHA KUASA

Menurut Anisa siang itu sangat aneh. Langit begitu cerah dan hawa yang terasa berbeda dari biasanya. Ia begitu gelisah dengan hawa ini . ia mencoba untuk mengabaikannya namun hatinya tetap saja gelisah. Di waktu istirahat ini ia pergunakan untuk makan siang bersama temannya yakni Putri.
kamu ngerasa aneh nggak hari ini ?”  tanya anisa
“nggak tuh, emangnya kenapa ?” jawab putrid
“aku merasa gelisah, aku punya perasaan buruk hari ini”
“itu mungkin cuman ilustrasi kami, abis kamu nonton tahayul mulu, hahaha”  ejek putri
“waduuh kamu nih, aku serius nih”
Kemudian lonceng berbunyi yang tandanya masuk kekelas dan belajar kembali. Anisa dan Putri segera memasuki kelasnya . karna mereka tak mau telat masuk kekelas, apalagi sekarang pelajaran matematika yang terkenal dengan guru galaknya. Belum sempat ia masuk kedalam kelas tiba-tiba bunyi sirine dan bumi bergetar dengan hebatnya. Sontak semua siswa keluar dari gedung sekolah. Seluruh siswa khawatir akan adanya Tsunami apalagi jarak antara sekolah dengan pantai hanya 1,5 km. dan Anisa lebih khawatir karna keluarganya dirumah yang jarakny dengan pantai hanya 1km. anisa segera mengambil ancang-ancang untuk keluar dari sekolah dan menyusul keluarganya. Namun usaha itu sia-sia , Satpam di depannya langsung menghentikan gerak tubuhnya dan berkata “ayo dek naik ke atas gedung, Tsunami akan datang sebentar lagi, jadi kamu tidak boleh keluar lagi demi keselamatan kamu”.. Anisa menjadi menangis “tapi pak, keluarga saya ada dirumah, saya khawatir pak”  dengan nada yang tak karuan sambil merengek.
Tiba-tiba terdengar suara yang keras, ternyata itu suara pohon yang tumbang terkena Tsunami . semua siswa bergegas naik kelantai 2 , sedangkan Anisa di bantu oleh Pak Satpam untuk naik ke lantai 2, Anisa hanya memandang kebawah melihat peristiwa yang terjadi hari ini sambil menangis. Ia lebih menangis karena melihat Mobil Ayahnya terseret oleh air , ia tidak tau dimana keluarganya kini.
Tak lama setelah Tsunami berlalu kemudian TIMSAR datang untuk mengevakuasi seluruh siswa menggunakan Helikopter, Anisa naik dengan perlahan ke dalam helicopter, di perjalanan menuju pengungsian ia melihat Rumahnya telah hancur di amuk Tsunami . dan sekarang Anisa sudah pasrah kepada Yang Maha Esa sambil menangis histeris.
Di kejauhan terlihat oleh Anisa orang tua temannya yang sedang menantinya . ia berharap orang tuanya juga menantinya disitu. Perlahan namun pasti Helikopter mulai mendarat , satu persatu siswa mulai turun dari Helikopter dan langsung menuju ke orang tuanya masing-maisng. Saat Anisa turun tak ada seorang pun yang memanggil namanya. Ia sangat sedih didalam hatinya ia bertanya “kemana aku harus menangis ? tak ada seorang pun yang aku kenal disini, kemana aku akan pergi ? aku tak ada tempat tinggal lagi? “ tak lama kemudian seorang Nenek berdiri disampingnya dan bertanya “dimana keluargamu nak ? kenapa kamu sendirian ?” tanya seorang nenek “ aku kehilangan keluargaku nek waktu Tsunami tadi, dan sekarang aku tak tau akan kemana lagi” jawab Anisa sambil menangis “ sudahlah nak jangan menangis , nanti kita cari keluargamu , kalau tidak ketemu kamu boleh tinggal bersama nenek di kampong nenek” bujuk sang nenek . “terima kasih nek”
Sudah beberapa hari mereka mencari keluarga Anisa namun tak ada satu informasi pun yang terdengar. Jadi Anisa memutuskan untuk tinggal bersama nenek angkatnya di kampung.
Hari berganti bulan , bulan berganti tahun tak terkira sudah 11 tahun Anisa tinggal bersama nenek angkatnya di kampung dan 11 tahun pula Anisa tidak bertemu dengan keluarganya. Anisa sekarang telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik jelita.
“Anisa… sebaiknya kamu sekarang mencari kerja di kota nak, kamu sekarang sudah dewasa, sudah berhak punya kehidupan sendiri, nenek pengen lihat kamu sudah ada pasangan .. uhuk uhuk..” ucap nenek dengan nada gemetar. “tapi nek, nenek sekarang sedang sakit, kalau nenek sakit siapa yang akan mengurus nenek ?”  jawab Anisa “tidak apa-apa Anisa , nenek bisa jaga diri, sekarang pergilah ke kota, semoga kamu menjadi orang yang sukses dan bertemu dengan keluarga kamu lagi” harapan nenek “baiklah nek aku akan ke kota sekarang, aku beres-beres dulu ya nek” sahut Anisa “iya, nenek manggil Fadil dulu supaya ngantar kamu ke terminal” .
Anisa pun mulai beres-beres pakaiannya, tak lupa pula ia membawa foto nenek dan foto keluarganya sendiri. Seketika itu nenek masuk kekamar Anisa sambil menangis “jaga dirimu baik-baik ya nak” , “iya nek, nenek juga jaga diri disini ya nek, kalau ada apa-apa kabari aku ya nek, jika aku sudah sukses nanti aku akan membawa nenek berkeliling, kota kita senang-senang disana nek” Anisa tersenyum kepada nenek dan nenek pun memeluknya. Tak lama kemudian suara klakson Honda dari rumah menandakan Fadil datang untuk mengantarkan Anisa ke terminal.
Mereka pun berjalan menuju pintu. Anisa langsung mencium tangan nenek dengan limpahan air mata, setelah itu ia naik ke atas Honda dan berangkat. Belum jauh dari rumah nenek Anisa berteriak dan melambaikan tanagn “aku pasti kembali neeek……”
Nenek membalasnya dengan lambaian yang kurang tinggi, itu menandakan nenek sudah rapuh oleh usia. Di perjalanan Anisa selalu memandang foto nenek dan keluarganya.
Tak lama di perjalanan. Akhirnya ia sampai di terminal , ia sendirian , Fadil hanya mengantarkannya sampai ke terminal. Anisa langsung mencari bus yang menuju ke Kota. Sebelu ia naik ke atas bus. Anisa melihat seseorang yang akan mencopet pria kaya di depannya. Saat aksi copet berlangsung. Anisa langsung berteriak “copet” kepada warga sekitar. Jadinya pria kaya itu tidak jadi kecopetan.
“terima kasih ya mbak, telah mencegah aksi copet tadi” ucap pria kaya itu. “iya pak sama-sama”. Jawab Anisa “ngomong-ngomong kamu mau kemana mbak ?”.  tanya pria kaya “ouh , aku mau ke Kota Pak, mau cari pekerjaan”. “ouh gitu.. oh ya . kalau kamu mau kamu bisa kok jadi pembantu dan babysister dirumah saya, pembatu saya lagi pulang ke kampungnya” tanya pria kaya itu. “mmm… boleh juga pak, kapan mulai kerjanya pak ?” , “ sekarang aja. Ayoo ikut bapak ke kota” .
Di perjalanan berbagai cerita mereka ceritakan “jangan panggil bapak dong mbak lagian kita seumuran, panggil saja aku Daniel.. ok”.. sahut Daniel “ouh baik. Tapi jangan panggil aku mbak juga dong. Panggil aja aku Anisa”.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah megah milik Daniel. Anisa kaget melihat seorang ibu-ibu yang sedang menyiram bunga. Ia sadar bahwa yang ia lihat itu adalah ibunya, Anisa langsung keluar dari mobil dan langsung bersujud di hadapan ibunya. “kamu siapa nak ?”.  tanya ibu-ibu tersebut. “ aku Anisa bu, anak ibu yang hilang belasan tahun lalu karna Tsunami?” jawab Anisa dengan senang. “benarkah ini kamu Anisa ?” Ibunya langsung memeluk Anisa. “ayah kemana bu ?” tanya Anisa “ayahmu telah tiada nak,” sambil menangis menjawabnya.
Sudah seminggu Anisa dengan ibunya, berbagai kisah ia ceritakan kepada Ibunya. Dan tak lupa pula ia menceritakan nenek angkatnya, dan ibunya juga menceritakan tentang Daniel. Seminggu itu juga ia akan menjenguk Nenek di kampung.
Keesokan harinya Anisa bersama Ibu dan Daniel pergi ke kampung untuk melihat nenek. Anisa berulang kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Seorang tetangga datang menghampirinya dan berkata bahwa Nenek dirumah itu sudah meninggal 3 hari sebelumnya karna penyakitnya kambuh.
Anisa sangat terkejut mendengarnya , di hatinya berkata “kenapa nenek pergi begitu saja ?.. aku belum sempat membahagiakan nenek.. aku belum berterima kasih kepada nenek dan mempertemukan nenek dengan keluargaku… kenapa nenek sudah pergi ?... semoga nenek tenang di alam sana”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar