COBAAN
DARI YANG MAHA KUASA
Menurut Anisa siang itu sangat aneh. Langit begitu cerah dan
hawa yang terasa berbeda dari biasanya. Ia begitu gelisah dengan hawa ini . ia
mencoba untuk mengabaikannya namun hatinya tetap saja gelisah. Di waktu
istirahat ini ia pergunakan untuk makan siang bersama temannya yakni Putri.
“kamu ngerasa aneh nggak hari ini ?” tanya anisa
“nggak
tuh, emangnya kenapa ?” jawab putrid
“aku
merasa gelisah, aku punya perasaan buruk hari ini”
“itu
mungkin cuman ilustrasi kami, abis kamu nonton tahayul mulu, hahaha” ejek putri
“waduuh
kamu nih, aku serius nih”
Kemudian lonceng berbunyi yang
tandanya masuk kekelas dan belajar kembali. Anisa dan Putri segera memasuki
kelasnya . karna mereka tak mau telat masuk kekelas, apalagi sekarang pelajaran
matematika yang terkenal dengan guru galaknya. Belum sempat ia masuk kedalam
kelas tiba-tiba bunyi sirine dan bumi bergetar dengan hebatnya. Sontak semua
siswa keluar dari gedung sekolah. Seluruh siswa khawatir akan adanya Tsunami
apalagi jarak antara sekolah dengan pantai hanya 1,5 km. dan Anisa lebih
khawatir karna keluarganya dirumah yang jarakny dengan pantai hanya 1km. anisa
segera mengambil ancang-ancang untuk keluar dari sekolah dan menyusul
keluarganya. Namun usaha itu sia-sia , Satpam di depannya langsung menghentikan
gerak tubuhnya dan berkata “ayo dek naik
ke atas gedung, Tsunami akan datang sebentar lagi, jadi kamu tidak boleh keluar
lagi demi keselamatan kamu”.. Anisa menjadi menangis “tapi pak, keluarga saya ada dirumah, saya khawatir pak” dengan nada yang tak karuan sambil merengek.
Tiba-tiba terdengar suara yang
keras, ternyata itu suara pohon yang tumbang terkena Tsunami . semua siswa
bergegas naik kelantai 2 , sedangkan Anisa di bantu oleh Pak Satpam untuk naik
ke lantai 2, Anisa hanya memandang kebawah melihat peristiwa yang terjadi hari
ini sambil menangis. Ia lebih menangis karena melihat Mobil Ayahnya terseret
oleh air , ia tidak tau dimana keluarganya kini.
Tak lama setelah Tsunami berlalu
kemudian TIMSAR datang untuk mengevakuasi seluruh siswa menggunakan Helikopter,
Anisa naik dengan perlahan ke dalam helicopter, di perjalanan menuju
pengungsian ia melihat Rumahnya telah hancur di amuk Tsunami . dan sekarang
Anisa sudah pasrah kepada Yang Maha Esa sambil menangis histeris.
Di kejauhan terlihat oleh Anisa
orang tua temannya yang sedang menantinya . ia berharap orang tuanya juga
menantinya disitu. Perlahan namun pasti Helikopter mulai mendarat , satu
persatu siswa mulai turun dari Helikopter dan langsung menuju ke orang tuanya
masing-maisng. Saat Anisa turun tak ada seorang pun yang memanggil namanya. Ia
sangat sedih didalam hatinya ia bertanya “kemana
aku harus menangis ? tak ada seorang pun yang aku kenal disini, kemana aku akan
pergi ? aku tak ada tempat tinggal lagi? “ tak lama kemudian seorang Nenek
berdiri disampingnya dan bertanya “dimana
keluargamu nak ? kenapa kamu sendirian ?” tanya seorang nenek “ aku kehilangan keluargaku nek waktu
Tsunami tadi, dan sekarang aku tak tau akan kemana lagi” jawab Anisa sambil
menangis “ sudahlah nak jangan menangis ,
nanti kita cari keluargamu , kalau tidak ketemu kamu boleh tinggal bersama
nenek di kampong nenek” bujuk sang nenek . “terima kasih nek”
Sudah beberapa hari mereka
mencari keluarga Anisa namun tak ada satu informasi pun yang terdengar. Jadi
Anisa memutuskan untuk tinggal bersama nenek angkatnya di kampung.
Hari berganti bulan , bulan berganti
tahun tak terkira sudah 11 tahun Anisa tinggal bersama nenek angkatnya di
kampung dan 11 tahun pula Anisa tidak bertemu dengan keluarganya. Anisa
sekarang telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik jelita.
“Anisa…
sebaiknya kamu sekarang mencari kerja di kota nak, kamu sekarang sudah dewasa,
sudah berhak punya kehidupan sendiri, nenek pengen lihat kamu sudah ada
pasangan .. uhuk uhuk..” ucap nenek dengan nada gemetar. “tapi nek, nenek sekarang sedang sakit,
kalau nenek sakit siapa yang akan mengurus nenek ?” jawab Anisa “tidak apa-apa Anisa , nenek bisa jaga diri, sekarang pergilah ke kota,
semoga kamu menjadi orang yang sukses dan bertemu dengan keluarga kamu lagi” harapan
nenek “baiklah nek aku akan ke kota
sekarang, aku beres-beres dulu ya nek” sahut Anisa “iya, nenek manggil Fadil dulu supaya ngantar kamu ke terminal” .
Anisa pun mulai beres-beres
pakaiannya, tak lupa pula ia membawa foto nenek dan foto keluarganya sendiri.
Seketika itu nenek masuk kekamar Anisa sambil menangis “jaga dirimu baik-baik ya nak” , “iya nek, nenek juga jaga diri disini
ya nek, kalau ada apa-apa kabari aku ya nek, jika aku sudah sukses nanti aku
akan membawa nenek berkeliling, kota kita senang-senang disana nek” Anisa
tersenyum kepada nenek dan nenek pun memeluknya. Tak lama kemudian suara
klakson Honda dari rumah menandakan Fadil datang untuk mengantarkan Anisa ke
terminal.
Mereka pun berjalan menuju pintu.
Anisa langsung mencium tangan nenek dengan limpahan air mata, setelah itu ia
naik ke atas Honda dan berangkat. Belum jauh dari rumah nenek Anisa berteriak
dan melambaikan tanagn “aku pasti kembali
neeek……”
Nenek membalasnya dengan lambaian
yang kurang tinggi, itu menandakan nenek sudah rapuh oleh usia. Di perjalanan
Anisa selalu memandang foto nenek dan keluarganya.
Tak lama di perjalanan. Akhirnya
ia sampai di terminal , ia sendirian , Fadil hanya mengantarkannya sampai ke
terminal. Anisa langsung mencari bus yang menuju ke Kota. Sebelu ia naik ke
atas bus. Anisa melihat seseorang yang akan mencopet pria kaya di depannya.
Saat aksi copet berlangsung. Anisa langsung berteriak “copet” kepada warga sekitar. Jadinya pria kaya itu tidak jadi
kecopetan.
“terima
kasih ya mbak, telah mencegah aksi copet tadi” ucap pria
kaya itu. “iya pak sama-sama”. Jawab
Anisa “ngomong-ngomong kamu mau kemana
mbak ?”. tanya pria kaya “ouh , aku mau ke Kota Pak, mau cari
pekerjaan”. “ouh gitu.. oh ya . kalau kamu mau kamu bisa kok jadi pembantu dan
babysister dirumah saya, pembatu saya lagi pulang ke kampungnya” tanya pria
kaya itu. “mmm… boleh juga pak, kapan
mulai kerjanya pak ?” , “ sekarang aja. Ayoo ikut bapak ke kota” .
Di perjalanan berbagai cerita
mereka ceritakan “jangan panggil bapak
dong mbak lagian kita seumuran, panggil saja aku Daniel.. ok”.. sahut
Daniel “ouh baik. Tapi jangan panggil aku
mbak juga dong. Panggil aja aku Anisa”.
Tak lama kemudian mereka sampai
di rumah megah milik Daniel. Anisa kaget melihat seorang ibu-ibu yang sedang
menyiram bunga. Ia sadar bahwa yang ia lihat itu adalah ibunya, Anisa langsung
keluar dari mobil dan langsung bersujud di hadapan ibunya. “kamu siapa nak ?”. tanya
ibu-ibu tersebut. “ aku Anisa bu, anak
ibu yang hilang belasan tahun lalu karna Tsunami?” jawab Anisa dengan
senang. “benarkah ini kamu Anisa ?” Ibunya
langsung memeluk Anisa. “ayah kemana bu
?” tanya Anisa “ayahmu telah tiada
nak,” sambil menangis menjawabnya.
Sudah seminggu Anisa dengan
ibunya, berbagai kisah ia ceritakan kepada Ibunya. Dan tak lupa pula ia
menceritakan nenek angkatnya, dan ibunya juga menceritakan tentang Daniel.
Seminggu itu juga ia akan menjenguk Nenek di kampung.
Keesokan harinya Anisa bersama
Ibu dan Daniel pergi ke kampung untuk melihat nenek. Anisa berulang kali
mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Seorang tetangga datang menghampirinya
dan berkata bahwa Nenek dirumah itu sudah meninggal 3 hari sebelumnya karna
penyakitnya kambuh.
Anisa sangat terkejut
mendengarnya , di hatinya berkata “kenapa
nenek pergi begitu saja ?.. aku belum sempat membahagiakan nenek.. aku belum
berterima kasih kepada nenek dan mempertemukan nenek dengan keluargaku… kenapa
nenek sudah pergi ?... semoga nenek tenang di alam sana”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar